START TYPING AND PRESS ENTER TO SEARCH

rxdagojgjarih2zh8nio

10 Tahapan Inisiasi Menyusu Dini Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia

IMD atau Inisiasi Menyusu Dini menjadi salah satu momen penting setelah bayi dilahirkan karena memiliki banyak manfaat, seperti dapat meningkatkan kekebalan tubuh bayi hingga memperkuat hubungan bayi dengan ibu. Proses IMD dilakukan bukan dengan cara menjejalkan puting susu ibu ke mulut bayi, sebab tujuan dari proses ini sebenarnya adalah kontak kulit dini (early skin-to-skin contact) antara ibu dan bayi selama minimal 1 jam.

Proses IMD akan berlangsung secara bertahap hingga akhirnya bayi dapat menemukan sendiri puting ibu dan menyusu. Nah, berikut 10 tahapan IMD menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

  1. Segera setelah bayi lahir dan diputuskan tidak memerlukan resusitasi (tindakan pertolongan saat bayi mengalami henti napas), letakkan bayi di atas perut ibu. Apabila persalinan dilakukan dengan cara sectio caesara atau operasi caesar, maka bayi bisa diletakkan di atas dada ibu. Setelah diletakkan di atas perut atau dada ibu, keringkan tubuh bayi mulai dari muka, kepala, dan bagian tubuh lainnya, kecuali kedua tangannya. Bau carian amnion pada tangan bayi akan membantunya mencari putting ibu karena memiliki bau sama. Maka itu, agar bayi dapat dengan mudah melakukan IMD, sebaiknya bagian dada ibu juga tidak dibersihkan. Mengeringkan tubuh bayi juga tidak perlu sampai menghilangkan lapisan verniks di tubuhnya, karena lapisan ini justru dapat berfungsi sebagai penahan panas pada bayi.
  2. Setelah tali pusat dipotong dan diikat, tengkurapkan bayi di atas perut atau dada ibu dengan posisi kepala bayi menghadap ke arah kepala ibu.
  3. Jika ruangan persalinan dingin, berikan selimut yang dapat menyelimuti tubuh ibu dan bayi. Bisa juga mengenakan topi untuk menutupi bagian kepala bayi.
  4. Sebuah studi yang dilakukan oleh Windstrom, Righard, dan Alade, mengatakan bahwa bayi-bayi yang tidak mengalami sedasi (penggunaan anastesi) akan mengikuti suatu pola perilaku prefeeding yang dapat diprediksi yakni saat bayi ditengkurapkan di perut atau dada ibu, ia akan diam saja selama beberapa waktu namun tetap waspada untuk melihat ke sekililingnya.
  5. Setelah 12-44 menit bayi akan mulai bergerak dengan cara menendang, menggerakkan kaki, bahu dan juga bagian lengannya. Stimulasi ini akan membantu uterus ibu untuk berkontraksi. Meskipun kemampuan melihat bayi masih sangat terbatas, namun bayi tetap dapat melihat bagian areola mammae yang berwarna lebih gelap dan bergerak menuju ke sana.Pada saat ini, bayi juga kerap membentur-benturkan kepalanya secara perlahan ke bagian dada ibu. Ini merupakan salah satu stimulasi yang menyerupai pijatan pada payudara ibu.
  6. Bayi kemudian akan mencapai putting ibu dengan mengandalkan indra penciumannya dan dipandu oleh bau pada kedua tangannya. Selanjutnya, bayi akan mengangkat kepala, mulai memasukkan putting ke dalam mulut dan mengulumnya serta menyusu. Hal ini bisa terjadi antara menit ke 27-71 menit.
  7. Pada saat bayi sudah siap untuk menyusu, proses menyusu pertama hanya akan berlangsung dalam waktu sebentar, sekitar 15 menit. Setelah proses menyusu pertama ini selesai, biasanya selama 2-2,5 jam berikutnya, bayi tidak akan memiliki keinginan lagi untuk menyusu. Selama menyusu ini, bayi akan mulai berlatih mengoordinasikan gerakan mengisap, menelan, dan bernapas.
  8. Setelah tindakan IMD selesai, selanjutnya bayi baru bisa dilakukan tindakan asuhan keperawatan seperti ditimbang, dilakukan pemeriksaan antropometri lain, disuntik vitamin K1, dan dioleskan salep pada bagian mata bayi.
  9. Tunda memandikan bayi paling kurang 6 jam setelah ia lahir atau lebih baik dilakukan pada esok hari.
  10. Pastikan bayi selalu dalam jangkauan ibu agar proses menyusu menjadi lebih mudah dan sesuai keinginan bayi (rooming in/rawat gabung).

 

Inisiasi Menyusu Dini merupakan tahapan penting yang sebaiknya tidak boleh dilewatkan, karena melalui proses ini bayi dan ibu bisa memeroleh banyak manfaat. IMD dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh bayi sejak awal sehingga bisa mengurangi peluang bayi terjangkit infeksi yang mengancam jiwa.