START TYPING AND PRESS ENTER TO SEARCH

pendek

Perawakan Pendek Pada Anak

Perawakan pendek merupakan salah satu keluhan yang sering diutarakan oleh orang tua saat konsultasi di poli anak. Terkadang orang tua baru menyadari kalau anaknya pendek saat membandingkan dengan adiknya atau temannya sebaya. Penderita perawakan pendek ini beresiko mengalami kesulitan jika akan menekuni profesi tertentu yang mensyaratkan tinggi badan tertentu. Penderita juga rentan mendapat perlakuan negatif (bullying) dari orang sekitarnya. Hal ini tentu saja memberi dampak psikologis pada penderita. Penderita bisa minder, menarik diri dari lingkungan dan depresi. Sebetulnya apa sih yang dimaksud perawakan pendek itu?

Perawakan pendek atau short stature adalah tinggi badan yang berada di bawah persentil 3 atau -2 SD pada kurva pertumbuhan yang berlaku pada populasi tersebut atau kurva NCHS.

“Apa saja penyebabnya?”

Perawakan pendek dapat disebabkan karena berbagai kelainan endokrin maupun non endokrin. Penyebab non endokrin seperti penyakit infeksi kronik, gangguan nutrisi, kelainan gastrointestinal, penyakit jantung bawaan dan lain lain.

Tinggi badan merupakan salah satu indikator kesehatan dan kesejahteraan anak. Data WHO menunjukkan tinggi anak Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan tinggi anak dari negara-negara lain. Berdasarkan hasil Riskesdas 2010, prevalensi anak balita pendek (stunting) 35,6 %.

“Dapatkah dilakukan deteksi dini perawakan pendek ini?”

Ya. Pemantauan tinggi badan berkala sangat penting untuk menilai normal tidaknya pertumbuhan anak. Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan diperlukan untuk pemberian terapi lebih awal, sehingga memberikan hasil yang lebih baik.

Pengukuran tinggi badan, berat badan harus diukur dan dipantau berkala, minimal pada waktu waktu berikut yaitu :

  • Umur < 1 tahun : saat lahir, 1, 2, 4, 6, 9, 12 bulan
  • Umur 1 – 2 tahun : setiap 3 bulan
  • Umur > 3 – 21 tahun = Setiap 6 bulan

Beberapa variasi normal perawakan pendek yang fisiologis yaitu perawakan pendek familial dan constitutional delay of growth and puberty.

“Apakah ada kriteria untuk dilakukannya pemeriksaan khusus atau lanjut pada perawakan pendek? “

Ada, yaitu antara lain:

  • Tinggi badan di bawah persentil 3 atau -2SD.
  • Kecepatan pertumbuhan di bawah persentil 25 atau laju pertumbuhan < 4cm/tahun (usia 3-12 tahun).
  • Perkiraan tinggi dewasa di bawah mid parental height. Penderita dapat dilakukan tes stimulasi hormone pertumbuhan.

“Bagaimana terapi pada perawakan pendek ini?”

Terapi disesuaikan dengan underlying disease yang diderita. Pada kekurangan hormone pertumbuhan maka dapat diberikan terapi injeksi hormone pertumbuhan ini.

“Apakah indikasi terapi hormone pertumbuhan itu?”

Beberapa kelompok pasien telah disetujui untuk mendapat terapi hormone pertumbuhan, antara lain pada kasus sebagai berikut:

  • Defisiensi hormon pertumbuhan
  • Sindrom Turner Anak
  • IUGR (Intra Uterine Growth Retardation) atau KMK (Kecil Masa Kehamilan)
  • Gagal ginjal kronik
  • Sindrom Prader Willi
  • Idiopathic short stature

“Apa yang dipantau selama mendapat terapi?”

Tinggi badan dan laju pertumbuhan (growth velocity) penderita. Terapi hormon dihentikan bila lempeng epifisis telah menutup atau respon tidak adekuat terhadap terapi yaitu pertambahan kecepatan pertumbuhan tidak sesuai yang diharapkan. Bila dijumpai kelainan perawakan pendek yang patologis harap dirujuk ke dokter spesialis endokrin anak untuk penanganan subspesialistik lebih lanjut.

Sumber : Depkes RI, SPM IDAI 2010

Nur Rochmah, SpA

Dokter Spesialis Anak

RSIA Kendangsari Merr

Surabaya